"Sesungguhnya Allah Akan Mengangkat Derajat Orang Yang Beriman dan Memiliki Ilmu Pengetahuan Beberapa Derajat"
Tampilkan postingan dengan label Muhammadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammadiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2017

pengukuhan Pimda dan UKT



PENGUKUHAN PIMDA TS 149 DAN UKT SISWA TAPAK SUCI HSU



Bertempat di Komplek Pendidikan Muhammadiyah Muallimin Alabio Kegiatan Pengukuhan Pimpinan Daerah (Pimda) 149 Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah dan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Siswa Tapak Suci Se- HSU berjalan sesuai harapan. Kegiatan dibuka pada hari jumat 27 Januari 2016 dengan dihadiri oleh Pimwil Tapak Suci Kalsel, PD Muhammadiyah HSU, PD Ortom HSU, pengurus IPSI HSU serta perwakilan beberapa perguruan Pencak Silat di wilayah HSU di antaranya PSHT dan Persinas ASAD.

Selasa, 20 Desember 2016

Pergerakan Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN
(Sarana Penegak Agama Islam)
Oleh : Aby Quhava Ahda Al-Banjary


Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah islam amar ma'ruf nahi mungkar belum banyak difahami secara mendalam oleh masyarakat bahkan oleh warga Muhammadiyah sendiri. Sebagian ada yang menganggap Muhammadiyah sebagai agama, sehingga sering dahulu didengar ada seorang ayah yang berpesan dengan anak perempuannya bahwa jika nanti ia akan menikah, maka harus dengan orang islam, asal jangan pilih orang Muhammadiyah. Muhammadiyah seolah dianggap agama baru karena diawal kemunculannya gerakan yang dilakukan tidak sama dengan apa yang dilakukan atau di amalkan oleh orang kebanyakan. Ada juga yang mengatakan bahwa kita itu harus mengikuti Al-Quran dan Sunnah yang shahih sebagai pedoman hidup baik terkait akidah, ibadah maupun muamalah, oleh sebab itu mengikuti himpunan putusan tarjih dianggap tidak mengikuti dua sumber ajaran islam utama tersebut.

Minggu, 18 Desember 2016

pengkaderan Muhammadiyah

KRISIS KADER
(Bagian Petama)

Oleh Abu Quhava Ahda Al- Banjary



Krisis kader tampaknya menjadi kekhawatiran yang dirasakan oleh hampir semua pimpinan daerah muhammadiyah di Kalimantan selatan, atau mungkin menjadi momok dalam skala nasional. Kader memang memegang peran penting untuk melanjutkan gerak langkah persyarikatan (baca:muhammadiyah), sebab tidak mungkin sebuah organisasi besar seperti Muhammadiyah dapat berjalan jika tidak memiliki penerus perjuangan, yakni para kader.
Di beberapa tempat bahkan anak para pimpinan Muhammadiyah sendiri tampak enggan berkecimpung dalam organisasi yang digeluti orang tuanya, sehingga sering muncul tanggapan sinis : " Anaknya pimpinan Muhammadiyah saja tidak ikut kegiatan di Muhammadiyah".
Pengkaderan muncul dari kegiatan, ketika tidak ada kegiatan maka akan sangat sulit melahirkan kader, akan tetapi ketika telah banyak kegiatan yang dilakukan maka akan lebih mudah menghasilkan kader. Muhammadiyah sebagai gerakan besar dan di dalamnya ada organisasi otonom (ortom) seharusnya cukup mudah menghasilkan kader, karena setiap ortom yang dimiliki Muhammadiyah memungkinkan melakukan kegiatan yang dapat disesuaikan dengan tingkatan dan latarbelakang  setiap orang yang ada di masyarakat. Pada usia remaja/pelajar ada Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), di kalangan Mahasiswa ada ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), di kalangan Pemuda ada Pemuda Muhammadiyah, di kalangan pemudi ada Nasyiatul 'Aisyiah (NA), untuk para ibu ada Aisyiah,  serta bagi yang hobi beladiri ada Tapak Suci (TS) yang bisa membawahi, dan yang menyukai kegiatan kepanduan ada Hizbul Wathan (HW) yang bisa menaungi. Belum lagi amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang jumlahnya tidak sedikit seharusnya juga bisa menjadi pencetak kader-kader Muhammadiyah. Dengan demikian mengapa masih sulit menghasilan kader?.

Rabu, 05 Oktober 2016

muscab alabio

ALABIO GELAR MUSCAB BERSAMA KE- 12




Cabang Muhammadiyah Alabio baru saja melaksanakan kegiatan Musyawarah Cabang gabungan dengan mengambil tema " Gerakan Pencerahan Menuju Masyarakat Hulu Sungai Utara yang berkemajuan". Kegiatan yang dilaksanakan Ahad 01 Muharram 1438 H / 02 Oktober 2016 ini mengambil tempat di komplek perguruan Muhammadiyah Mu'allimin berlangsung semarak. Kegiatan ini di hadiri oleh Pimpinan Muhammadiyah tingkat daerah serta pimpinan Cabang di lingkungan Hulu Sungai Utara, undangan dan warga serta simpatisan Muhammadiyah. Kegiatan pembukaan Musyawarah cabang di awali dengan pawai Ta'aruf yang diikiti oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah dan Aisyiah yang terdiri dari TK, SD, SMP, Mts, Madrasah Aliyah dan Pondok Pesantren, 3 (tiga) Kesatuan Drum Band dan Anggota Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Minggu, 18 September 2016

Silaturrahim LP3M / ITMAM

SILATURRAHIM LP3M DENGAN PONPES NURUL AMIN
DAN WARGA MUHAMMADIYAH HSU

 KH. Yunus Muhammadi (Ketua LP3M PP Muhammadiyah )dan KH. Ahmad Hadi Abwa ( Direktur Ponpes Nurul Amin)


Bertempat di aula pondok pesantren Nurul Amin kegiatan silaturrahim Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M) dengan pimpinan dan warga Muhammadiyah di lingkungan PDM Hulu Sungai Utara berlangsung cukup khidmat. Ketua LP3M yang hadir KH. Yunus Muhammadi yang juga merupakan ketua ITMAM ( Ittihadul Ma'aahid Al- Muhammadiyah) sekaligus Mudir Ponpes Imam Syuhodo Jawa Tengah menyatakan bahwa lembaga Pondok pesantren merupakan lembaga yang ideal yang mampu mencetak kader-kader persyarikatan di masa depan, selain itu ponpes juga mampu menghasilkan insan yang berkualitas baik dalam ilmu dunia maupun ilmu agama (akhirat). Beliau juga menyatakan bahwa sebagian besar pondok pesantren Muhammadiyah sedang berusaha untuk maju dan bersaing dengan pondok-pondok lain, untuk mencapai setidaknya da beberapa hal yang harus diperhatikan di antaranya terkait struktur organisasi dan kurikulum. Pondok pesantren harus melakukan reformasi kalau perlu malah melakukan revolusi agar mampu menjadi lembaga yang berkualitas.

Rabu, 07 September 2016

Spirit Warga Muhammadiyah

WARGA MUHAMMADIYAH DAN FARDHU KIFAYAH
(Semangat Ibadah Secara Kolektif)
oleh : Abu Quhava Ahda Al-Banjary




Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Alabio (salah satu daerah di Kab. Hulu Sungai Utara) kurang lebih enam belas tahun yang lalu, ada sebuah kegiatan yang sangat berkesan (kalau boleh disebut budaya) yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah  yang baru penulis temukan, meskipun penulis juga lahir dari keluarga Muhammadiyah namun ada sedikit perbedaan terkait budaya tersebut antara di Alabio dengan di tempat lahir penulis. Alabio yang dikenal sebagai tempat awal tumbuhnya organisasi Muhammadiyah di Kalimantan memang termasuk basis organisasi yang cukup kuat. Namun saat ini sebagaimana daerah lain, Alabio cukup kesulitan melahirkan kader militan serta berwawasan berkemajuan dalam menjaga dan mengembangkan organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini.

Tajdid dan Tarjih

Tajdid, Manhaj Tarjih, dan Produk Hukum Majelis Tarjih

 oleh : Wawan Gunawan Abdul Wahid


Tajdid bagi Muhammadiyah merujuk pada dua pengertian sekaligus. Pertama tajdid bermakna dinamisasi. Kedua, tajdid bermakna purifikasi, pemurnian. Ketika Kiai Dahlan mengoreksi arah kiblat Masjid Gedhe, Kiai sedang lakukan tajdid dalam dua pengertiannya sekaligus. Al-Qur’an dan Hadits mengajarkan bahwa arah wadag shalat kaum Muslimin mesti menuju ke kiblat Baitullah. Untuk mengaplikasikan ajaran Islam itu Kiai gunakan pengetahuan “baru’ yang jarang digunakan oleh umat Islam saat itu.

Kamis, 25 Agustus 2016

Muhammad Abduh Sang Pembaharu

Abduh Pembaru Moderat

Oleh Dr H Haedar Nashir, M.Si.

Di antara pembaru dunia Islam yang termasuk cemerlang pemnikirannya, dialah Muhammad Abduh. Karakter pemikiran dan kiprah pembaruan tokoh dari Mesir ini relatif memiliki kemiripan  dengan pemikiran Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Muhammad Abduh lahir di sebuah desa  Mahallah Nasr, di Mesir hilir pada tahun 1849 pada era Mesir di bawah kekuasaan Muhammad Ali (1805-1849). Menurut sementara pendapat, tahun kelahiran Abduh tidak begitu pasti, ada  yang bilang satu tahun lebih tua dari itu, karena masa kelahirannya situasi Mesir berada dalam masa pergolakan dan kedua orang tuanya tidak terlalu mementingkan soal tempat dan tanggal lahir (Nasution, 2001: 49). Ayahnya bernama Abduh Hasan Khairullah, keturunan Turki yang lama menetap di Mesir, sedangkan ibunya keturunan Arab yang nasabnya sampai ke suku bangsa Umar bin Khattab. Dari ayah dan ibunya Abduh kecil belajar membaca dan menulis, sebagai bekal awal untuk belajar Al-Quran dan menuntut ilmu di kemudian hari. Setelah itu pendidikan Abduh diserahkan ke seorang guru, hingga dua tahun mampu menghafal Al-Quran dan kemudian pada tahun 1862 dikirim untuk belajar agama di sebuah daerah bernama Tanta, di dekat Ismailiyah, dalam asuhan Syekh Ahmad.